9月 23, 2023
Apa itu Hustle Culture? Apa dampak negatif dari kebiasaan tersebut? Kenali Arti Hustle Culture beserta penyebab & cara menghindarinya!

Saat ini, Hustle Culture adalah istilah yang sering kita dengar dalam dunia pekerjaan. Giat bekerja adalah hal yang baik, namun bukan berarti kita terus menerus bekerja tanpa adanya waktu istirahat dan mengorbankan kehidupan pribadi. Kebiasaan tersebut sering dikatakan sebagai Hustle Culture.

Budaya ini mendorong seseorang untuk meraih kesuksesan secara cepat tanpa memperhatikan dampak negatifnya bagi kesehatan. Budaya ini dapat terjadi pada berbagai kalangan. Namun, hal ini sering terjadi pada generasi muda yang aktif di bidang startup dan wirausaha. Lalu apa sih sebenarnya Hustle Culture itu? Untuk lebih jelasnya mengenai Hustle Culture beserta penyebab dan cara mengatasinya berikut ini.

Ringkasan

  • Hustle berasal dari bahasa Inggris yang artinya mendorong dan bergerak dengan cepat atau melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Sedangkan culture artinya budaya.
  • Menurut istilah, Hustle Culture adalah suatu budaya yang mendorong individu untuk bekerja keras secara berlebihan dan mengorbankan waktu istirahat serta kehidupan pribadi.
  • Penyebab Hustle Culture adalah toxic positivity, konstruksi sosial, kemajuan teknologi yang semakin canggih dan rasa tanggung jawab yang tinggi.
  • Dampak negatif Hustle Culture bagi kesehatan adalah terjadinya Burn Out. Kehilangan Work Life Balance, meningkatkan risiko penyakit dan menyusahkan teman kerja.
  • Cara mengatasi terjadinya Hustle Culture adalah jangan membandingkan diri sendiri dengan orang dari media sosial, mengetahui batasan diri, bermain hobi, niat untuk beristirahat, tingkatkan Self Awareness dan mengubah pemikiran tentang kerja.

Pengertian Hustle Culture

Arti Hustle Culture

Hustle berasal dari bahasa Inggris yang artinya mendorong dan bergerak dengan cepat atau melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Sedangkan culture artinya budaya. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa Hustle Culture adalah suatu budaya yang mendorong individu untuk bekerja keras secara berlebihan dan mengorbankan waktu istirahat serta kehidupan pribadi. Budaya ini beranggapan bahwa kesuksesan itu dapat dicapai dengan cara bekerja keras tanpa henti dan mengabaikan dampak negatifnya bagi kesehatan fisik maupun mentalnya.

Dalam budaya ini, individu sering dipaksa untuk selalu produktif dan mengejar kesuksesan dengan terus bekerja tanpa henti. Padahal belum tentu kerja terus menerus dapat menghasilkan produktivitas yang lebih baik. Hustle Culture sering dikaitkan dengan budaya startup, wirausaha dan dunia kerja modern yang kompetitif. Budaya ini dapat memberikan motivasi dan dorongan bagi individu untuk mencapai tujuannya.

Namun, jika tidak diimbangi dengan waktu istirahat, dapat memicu terjadinya stres, kelelahan, burnout dan mudah terkena penyakit. Oleh karena itu, memahami dan membatasi diri sendiri adalah hal yang penting untuk tidak mengikuti Hustle Culture serta tetap memprioritaskan kesehatan dalam mengejar kesuksesan.

Ciri – Ciri Hustle Culture

Ciri - Ciri Workaholic

Ada beberapa ciri-ciri yang menunjukkan terjadinya Hustle Culture. Untuk itu perhatikan ciri-ciri berikut ini dan pastikan Anda tidak terperangkap dalam lingkungan kerja yang berlebihan serta tidak sehat.

  • Selalu memikirkan pekerjaan dan tidak pernah punya waktu untuk istirahat.
  • Merasa bersalah dan menyesal ketika melakukan istirahat.
  • Sering mengalami burn out saat bekerja.
  • Mempunyai target kerja yang tidak realistis.
  • Tidak pernah merasa puas dengan hasil kerja.
  • Mengabaikan kesehatan fisik dan mental.
  • Mengutamakan hasil dan mendorong persaingan.

Penyebab Hustle Culture

Penyebab Hustle Culture

Ada beberapa penyebab yang mengakibatkan terjadinya Hustle Culture. Untuk itu, hindari hal-hal yang mengakibatkan Hustle Culture agar tidak terjerumus dengan lingkungan kerja yang tidak sehat. Berikut penyebab dari Hustle Culture yang harus Anda hindari:

1. Toxic Positivity

Toxic positivity adalah sebuah fenomena di mana seseorang harus tetap berpikiran positif di berbagai situasi, baik dalam keadaan sedih maupun senang. Toxic Positivity bisa menjadi masalah, karena terkadang kita juga membutuhkan waktu untuk mengolah emosi negatif. Hal itu bertujuan agar dapat meningkatkan semangat bekerja lagi. Akan tetapi hal tersebut bisa menjadi buruk, jika seseorang merasa terpaksa untuk selalu tersenyum atau pura-pura merasa baik- baik saja di hadapan orang lain, padahal sebenarnya sedang merasa sedih. Maka dari itu, merasakan emosi negatif adalah hal yang normal dalam kehidupan manusia dan tidak selalu harus dihindari.

2. Konstruksi sosial

Konstruksi sosial adalah sebuah konsep yang mengacu pada cara pandang, norma dan nilai sosial yang dibangun dan diterima oleh masyarakat. Saat ini, kebanyakan orang berlomba-lomba untuk mengejar kesuksesan hingga lupa dengan kesehatan fisik dan mental mereka. Sebagian besar orang beranggapan bahwa sukses itu diukur dari jabatan dan kekayaan yang dimiliki. Sehingga hal tersebut menyebabkan seseorang terpaksa untuk bekerja keras agar terlihat sukses di mata masyarakat.

Dalam hal ini, konstruksi sosial dapat mempengaruhi persepsi individu terhadap pentingnya produktivitas dan kesuksesan dalam hidup. Namun, konstruksi sosial juga dapat diubah oleh individu dalam membangun kesadaran akan pentingnya keseimbangan hidup dan kesejahteraan pribadi dalam produktivitas dan kesuksesan.

3. Kemajuan teknologi yang semakin canggih

Saat ini kemajuan teknologi berkembang sangat pesat, sehingga seseorang dengan mudah bekerja dari rumah. Tanpa disadari hal tersebut menjadi kebiasaan untuk selalu bekerja terus menerus, tanpa dibatasi waktu. Selain itu, kemajuan teknologi juga mempercepat ritme dan meningkatkan harapan untuk produktivitas yang lebih tinggi. Sebagian besar perusahaan dan industri menuntut para karyawannya untuk selalu siap bekerja dan responsif dalam waktu yang singkat. Sehingga membuat seseorang merasa terus menerus terjebak dalam lingkungan kerja yang tidak sehat. Dalam hal ini, kemajuan teknologi telah memberikan tantangan baru individu untuk mengatur antara kehidupan kerja dan pribadi.

4. Rasa tanggung jawab yang tinggi

Rasa tanggung jawab yang tinggi adalah hal yang baik dalam lingkungan kerja. Namun, jika rasa tanggung jawab tersebut terlalu berlebihan dan terpaksa untuk mengorbankan waktu serta energi mereka. Maka hal tersebut termasuk lingkungan kerja yang tidak sehat dan kebiasaan itu lama kelamaan akan menjadi Hustle Culture pada kehidupan individu.

Dampak negatif Hustle Culture bagi kesehatan

Dampak Negatif Workaholic

Hustle Culture menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan fisik maupun mental. Untuk itu, hindari budaya tersebut dalam dunia pekerjaan. Berikut dampak negatif dari Hustle Culture yang bisa Anda simak:

1. Burn Out

Burn Out adalah suatu keadaan yang ditandai dengan rasa kelelahan secara fisik, emosi dan juga mental. Hal tersebut disebabkan oleh stres yang berkepanjangan di tempat kerja. Burn Out sering terjadi pada seseorang yang merasa terbebani oleh tuntutan pekerjaan, jadwal kerja yang tidak beraturan dan merasa kurang dihargai oleh pimpinan atau teman kerja. Jika dibiarkan, Burn Out dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan mental serta berdampak negatif pada kinerja dan kehidupan pribadinya. Berikut tanda- tanda Burn Out:

  • Kelelahan fisik dan emosi yang berlebihan
  • Kurangnya motivasi dan minat dalam pekerjaan
  • Sakit kepala kronis
  • Mudah marah
  • Kurang berkonsentrasi
  • Terlalu sering menunda pekerjaan

2. Kehilangan Work Life Balance

Work Life Balance terjadi ketika seseorang menghabiskan terlalu banyak waktu dan energi untuk bekerja, sehingga tidak memiliki waktu untuk melakukan kegiatan di luar pekerjaan seperti istirahat, olahraga, quality time dengan keluarga atau teman. Akibatnya, seseorang mudah merasa kelelahan, stres dan emosi yang tidak seimbang. Oleh karena itu, hiburan dan istirahat adalah hal yang penting bagi setiap manusia untuk menciptakan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

3. Meningkatkan risiko penyakit

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bekerja terlalu berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit seperti jantung, diabetes dan depresi. Selain itu kurang istirahat juga dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko penyakit. Bukan hanya berdampak pada kesehatan fisik saja, tetapi juga memiliki dampak negatif pada kesehatan mental seperti stres, kecemasan dan depresi.

4. Menyusahkan teman kerja

Bekerja secara berlebihan dapat mempengaruhi kinerja keseluruhan tim. Teman kerja dapat merasa tertekan untuk bekerja dengan tuntutan kerja luar jam. Seperti pada malam hari atau saat hari libur.

Cara Menghindari Hustle Culture

Cara Menghindari Hustle Culture

Buat Anda yang sudah terlanjur melakukan Hustle Culture tetapi bingung untuk mengatasinya. Jangan khawatir, karena budaya tersebut lama kelamaan akan hilang jika Anda dapat membatasi diri. Berikut beberapa cara untuk mengatasi Hustle Culture yang bisa Anda coba. Intinya niat dan konsisten untuk menghilangkannya. Untuk lebih jelasnya, bisa Anda simak penjelasan di bawah ini :

1. Jangan membandingkan diri sendiri dengan orang dari media sosial

Media sosial adalah sumber tekanan dan kecemasan karena melihat postingan orang lain yang menunjukkan kehidupan yang sempurna. Namun, postingan tersebut belum tentu mencerminkan realitas yang sebenarnya. Dengan membandingkan diri dengan orang lain dari media sosial itu ibarat mengukur diri sendiri dengan standar yang tidak realistis. Untuk mengatasi hal ini, maka disarankan untuk membatasi waktu yang dihabiskan di media sosial dan memanfaatkan waktu luang untuk kegiatan yang positif. Setiap orang mempunyai standar kesuksesan yang berbeda-beda. jadi jangan selalu membandingkan dirimu dengan orang lain.

2. Mencari hobi di luar pekerjaan

Bermain hobi adalah sarana untuk menghilangkan stres dari tuntutan pekerjaan dan membantu untuk meningkatkan ketrampilan, minat dan bakat seseorang. Luangkan waktumu untuk melakukan hal-hal yang bisa membuat Anda bahagia. Jangan gunakan waktumu untuk terus menerus bekerja keras. Bukan berarti, bermain hobi itu harus mengorbankan waktu untuk pekerjaan, tetapi jadwalkan secara teratur antara waktu untuk pekerjaan dan kehidupan pribadi secara seimbang.

3. Mengubah pemikiran tentang bekerja

Cara selanjutnya untuk mengatasi Hustle Culture adalah mengubah cara pandang tentang bekerja sebagai bagian dari kehidupan yang seimbang, di mana ada waktu untuk bekerja dan kegiatan di luar pekerjaan seperti bermain hobi, kumpul sama teman atau keluarga, mengurus rumah tangga dan berolahraga. Selain itu, kita juga dapat memperluas definisi sukses itu dapat dilihat dari pencapaian keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Bukan dilihat dari produktivitas dan pendapatan yang dimiliki.

4. Mengetahui batasan diri

Cara selanjutnya adalah mengetahui batasan diri dan mengambil tindakan yang sesuai. Hal ini termasuk menetapkan batas waktu untuk bekerja dan istirahat. Jika kita sudah merasa lelah, maka jangan memaksakan diri untuk bekerja dan segera istirahat. Perlu diingat bahwa kerja yang berlebihan tidak selalu menghasilkan produktivitas yang lebih baik. Terkadang mengambil waktu istirahat dapat membantu meningkatkan kinerja dan kreativitas.

5. Niatkan diri untuk beristirahat

Jadwalkan waktu istirahat secara teratur dan memprioritaskan waktu luang sebagai kegiatan yang positif. Dengan niat beristirahat, dapat mengurangi stres dan kesehatan fisik serta mental. Hal itu juga dapat membantu menyeimbangkan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

6. Tingkatkan Self Awareness

Self Awareness adalah hal yang penting bagi setiap individu agar tidak mudah terpengaruh oleh kehidupan orang lain. Anda dapat mencoba mengevaluasi nilai-nilai yang penting dalam diri sendiri seperti apa yang membuat kita bahagia dan membuat kita merasa terhubung dengan orang lain di sekitar kita. Dengan meningkatkan Self Awareness, dapat memahami kebutuhan dan prioritas diri sendiri menjadi lebih baik.

Penutup

Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa Hustle Culture adalah hal yang kurang baik dalam bekerja karena menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan fisik maupun mental. Untuk itu hindari budaya tersebut dalam dunia pekerjaan. Semoga artikel ini bermanfaat buat Anda yang ingin mengetahui terkait arti Hustle Culture beserta penyebabnya dan cara mengatasinya.

Apa penyebab dari Hustle Culture?

Penyebab dari Hustle Culture adalah toxic positivity, konstruksi sosial, kemajuan teknologi yang semakin canggih dan rasa tanggung jawab yang tinggi

Bagaimana cara menghindari Hustle Culture?

Cara mengatasi Hustle Culture adalah dengan tidak membandingkan diri sendiri dengan orang dari media sosial, mengetahui batasan diri, bermain hobi, niat untuk beristirahat, tingkatkan self awareness dan mengubah pemikiran tentang kerja.

Sejak kapan fenomena Hustle Culture ditemukan?

Hustle Culture ditemukan sejak tahun 1971.

Apa nama lain dari Hustle Culture?

Nama lain dari Hustle Culture adalah Workaholism atau Workaholic.


发表回复

您的电子邮箱地址不会被公开。 必填项已用*标注